Wisudawan
Ber-IPK 3,96 Itu Diantar Ayahnya dengan Becak
Selasa, 10 Juni 2014 | 21:39
HUMAS/LINTANG HAKIM
Raeni menuju Auditorium Unnes untuk
mengikuti wisuda diantar oleh Mugiyono, ayahnya, Selasa (10/6).
Perhatian para keluarga wisudawan
dan puluhan wartawan langsung tersita pada Raeni, Selasa (10/6). Pasalnya,
wisudawan dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes ini
berangkat ke lokasi wisuda dengan kendaraan yang tidak biasa. Penerima beasiswa
Bidikmisi ini diantar oleh ayahnya, Mugiyono, menggunakan becak.
Mengapa becak? Ayahanda Raeni memang
bekerja sebagai tukang becak yang saban hari mangkal tak jauh dari rumahnya di
Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono setelah ia
berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis. Sebagai tukang becak,
diakuinya, penghasilannya tak menentu. Sekira Rp10 ribu – Rp 50 ribu. Karena
itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450
ribu per bulan.
Meski dari keluarga kurang mampu,
Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa
Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna. Prestasi
itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan
terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Dia juga menunjukkan tekad
baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan
keluarganya.
“Selepas lulus sarjana, saya ingin
melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau
ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.
Tentu saja cita-cita itu didukung
ayahandanya. Ia mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi
guru sesuai dengan cita-citanya.
“Sebagai orang tua hanya bisa
mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar
mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.
Rektor Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengatakan,apa
yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga
kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.
“Meski berasal dari keluarga dengan
kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya.
Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimilikinya
untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang
diraih Raeni,” katanya.
Ia bahkan yakin, dalam waktu tak
lama lagi akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. “Anak-anak dari keluarga miskin
akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai
eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini,” katanya.
Harapan itu terasa realistis karena
jumlah penerima Bidikmisi lebih dari 50.000 per tahun. Unnes sendiri
menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar